Pemkab Sidoarjo Butuh Rp2,3 Triliun untuk Tangani Banjir Selama 4 Tahun

www.PetaniNusantara.com.ǁJawaTimur,19 Januari 2026-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo sedang menyiapkan masterplan penanganan banjir di Kabupaten Sidoarjo.

Selain melakukan pemetaan potensi dan rencana penanganan, pemerintah juga menghitung kebutuhan biaya yang harus dikeluarkan.

Tak tanggung-tanggung, untuk penanganan jangka pendek saja, terhitung anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 2,3 triliun.

“Jangka pendek itu terhitung waktunya dari tahun 2025 sampai 2029,” kata Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sidoarjo, M Ainur Rahman.

Dana sebanyak itu dibakal digunakan untuk menangani sejumlah sungai yang ada di Sidoarjo.

Seperti Kali Pecabean yang merupakan titik pertemuan Afvour Bahgepuk, Sungai di Candi hingga pertemuan dengan anak Afvour Kedung Uling, saluran di Waru-Tambakrejo, dan Area Ketapang hingga ke muara.

“Ada juga kebutuhan untuk menangani sungai di Sidokare hingga Rangkah Kidul, titik peremuan Afvour Pucang dengan Industrial Park, hilir Afvour Botokan-Muara, Kepuh Kiriman dan Tambakrejo, kemudian Afvour Pesawahan, dan Sungai di Waru-Tambakrejo,” urainya.

Selain normalisasi sejumlah sungai besar dan kecil, dalam penyusunan masterplan penanganan banjir ini juga telah dipetakan semua saluran yang ada di Sidoarjo.

Serta menguatkan saluran drainase di area permukiman warga dan memastikan semua terhubung ke afvour.

“Termasuk kita rencanakan pembangunan embung atau penampungan air di sejumlah lokasi. Seperti di Kawasan Waru, Kedungbanteng, Sidokare, dan beberapa titik lainnya untuk menampung air,” lanjut Ainur.

Tambah Rumah Pompa Permanen

Program lainnya adalah menambah rumah pompa permanen dan temporary di area floodplain, serta membangun tanggul dan storage area di Kawasan Tanggulangin.

Yang tidak kalah penting, dalam masterplan juga disiapkan rencana penertiban bangunan-bangunan di sekitar sungai.

Kemudian menguatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Makanya, dalam perencanaan ini juga ada kolaborasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta stake holder lainnya. Dan yang tidak kalah penting, kita berusaha menguatkan kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan,” kata Ainur.

Dalam proses penyusunan masterplan itu, disampaikan pula tim telah melakukan identifikasi terhadap kondisi di lapangan. Di antaranya tentang kapasitas saluran.

Diketahui selama ini masih banyak saluran yang tidak memadai untuk mengalirkan air akibat dimensinya memang kurang, atau karena pendangkalan dan penyempitan.

Kemudian ada juga elevasi saluran drainase kawasan yang lebih rendah dari Afvour.

Ada juga persoalan integrasi saluran.

Masterplan Disusun Bareng Tim ITS

Diketahui banyak saluran terputus atau tidak tersambung dengan pembuangan akhir sehingga mengakibatkan debit limpasan tidak dapat dialirkan dan mengakibatkan banjir.

“Di sejumlah saluran juga banyak terdapat kerusakan yang berakibat hambatan aliran. Lalu persoalan mendasar lainnya adalah kebersihan. Banyak sampah menumpuk dan mengakibatkan sedimentasi cukup tinggi, serta adanya bangunan liar di sempadan kali yang juga berdampak pada kurangnya dimensi saluran,” urainya.

Berbagai persoalan itu telah disiapkan solusinya dalam masterplan yang disusun Pemkab Sidoarjo bersama tim dari ITS untuk mengatasi banjir di Sidoarjo.

Terkait tingginya kebutuhan anggaran, realisasinya akan disesuaikan dengan kondisi fiscal daerah, serta kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.