Napak Tilas Isyarah NU Berakhir di Ponpes Tebuireng Jombang, Tak Tergoyahkan Hujan yang Mengguyur

www.PetaniNusantara.com.ǁJawaTimur,5 Januari 2026-Sebuah perjalanan suci untuk mengenang satu abad Nahdlatul Ulama (NU) berakhir di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Minggu (4/1/2026) malam.

Ribuan penganut menginjakkan kaki di halaman pesantren bersejarah itu, menyelesaikan napak tilas mengikuti isyarat pendirian organisasi Islam terbesar di Indonesia, tak tergoyahkan oleh hujan yang mengguyur perjalanan.

Ritus perjalanan ini merunut kembali jejak simbolis yang menjadi tonggak kelahiran NU.

Dimulai dari Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil di Bangkalan, Madura, para peserta menempuh perjalanan multidimensi.

Mereka berjalan kaki menuju Pelabuhan Kamal, menyeberang laut, lalu melanjutkan perjalanan darat menggunakan bus dan kereta api dari Surabaya ke Jombang.

Tahap akhir diakhiri dengan berjalan kaki sejauh 6 kilometer menuju kompleks Tebuireng.

Simbolisasi perjalanan bersejarah Kiai Asad Syamsul Arifin yang membawa pesan dari Syaichona Cholil untuk Kiai Hasyim Asyari dihadirkan melalui pengiraban replika tongkat dan tasbih.

Replika tersebut dibawa langsung dari Bangkalan oleh KH Azaim Ibrohimi, cucu Kiai Asad, dan akhirnya diserahkan kepada Pengasuh Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), di titik akhir perjalanan.

“Motivasinya karena cinta kepada Nahdlatul Ulama dan para guru. Perjuangan para pendahulu dulu jauh lebih berat,” ujar Ahmad Fauzi (26), salah satu peserta yang menempuh total perjalanan kaki sekitar 24 kilometer.

Perasaan senasib juga diungkapkan Yeyed (41), yang menyebut rombongannya dari Situbondo berjumlah lebih dari seribu orang, berangkat sejak subuh untuk menghormati sejarah.

Sambutan Hangat KH Yahya Cholil Staquf

Puncak acara di Tebuireng dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, yang menyambut hangat para pelaku napak tilas.

Gus Yahya, sapaan KH Yahya Cholil Staquf, berharap ritual ziarah sejarah ini mendatangkan berkah yang meluas, tidak hanya bagi internal NU, tetapi juga untuk bangsa Indonesia secara keseluruhan.

“Semoga kegiatan ini menjadi berkah besar untuk warga Nahdliyyin serta bangsa Indonesia. Dan semoga berkah ini menjadikan Nahdlatul Ulama menjadi semakin kuat dan lestari dalam menyebarkan kemaslahatan bagi kita semua,” ucap Gus Yahya dalam sambutannya di hadapan para peserta bapak tilas.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, selaku tuan rumah, menekankan relevansi napak tilas di era modern.

Menurutnya, mengenang sejarah adalah cara untuk menyesuaikan pesan-pesan para pendiri dengan konteks kekinian, agar NU tetap relevan sebagai wadah bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Momen kebersamaan ribuan jemaah ini sebagai pengingat kuat akan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah besarnya organisasi yang dihuni lebih dari 100 juta warga,” ujarnya, Senin (5/1/2025).

Bagi Gus Kikin, perjalanan panjang yang ditempuh merupakan bentuk kecintaan dan kepedulian terhadap Nahdlatul Ulama.

Serta bagian dari ikhtiar menyelami jejak historis Nahdlatul Ulama.

“Perjalanan panjang yang menguras tenaga itu bukan sekadar aksi fisik, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menyelami kembali akar spiritual dan historis, membangun kesadaran bahwa persatuan yang dibangun oleh para pendahulu harus terus dirawat untuk menjawab tantangan zaman,” pungkas Gus Kikin.