www.PetaniNusantara.com.ǁJawaTimur,11 Januari 2026-Meningkatnya jumlah bencana di Kota Batu selain karena musim penghujan juga karena indikasi alih fungsi lahan sehingga mengakibatkan munculnya bencana.
Jumlah bencana di Kota Batu selama tahun 2025 naik dratis dibanding tahun sebelumnya.
Tercatat sejak tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2025 telah terjadi 209 kejadian bencana di Kota Batu.
Sedangkan tahun 2024 lalu di Batu terjadi sebanyak 122 kejadian bencana, dengan didominasi tanah longsor yang tetap memimpin diposisi teratas.
Temuan Alih Fungsi Lahan
Hal itu sesuai dengan temuan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu pasca banjir luapan bercampur lumpur dan sampah yang terjadi di Bumiaji beberapa hari lalu.
Usai kejadian tersebut DPUPR melakukan pengambilan foto udara untuk mengetahui aliran alur Sungai Kali Paron dan hasilnya didapati indikasi adanya alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai.
Pengambilan foto udara itu merupakan intruksi langsung dari Wali Kota Batu, Nurochman agar diketahui penyebab banjir luapan bercampur lumpur hingga masuk ke rumah warga dan juga ke jalan raya.
“Saya instruksikan Dinas PUPR segera melakukan foto udara untuk pemetaan sungai dan kanal-kanal banjir eksisting. Data ini akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pemetaan dan intervensi kebijakan, termasuk rencana menambah kanal-kanal baru atau sudetan untuk memecah debit air,” tutur Nurochman saat itu.
Nurochman juga menyoroti persoalan alih fungsi lahan yang memicu banjir lumpur. Menurutnya, komitmen masyarakat dalam menjaga kawasan hulu sangat krusial.
Upaya Pemerintah
“Pemerintah akan menambah sudetan, tapi perilaku masyarakat terkait alih fungsi lahan harus menjadi komitmen bersama. Masyarakat pengelola hutan harus berpikir jangka panjang bahwa ada saudara-saudara kita di posisi bawah yang harus dipertimbangkan keselamatannya. Kepatuhan terhadap ketentuan pemanfaatan kawasan hutan adalah kunci,” terangnya.
Terkait langkah yang sudah diambil Nurochman menjelaskan BPBD sebenarnya telah melakukan upaya mitigasi beberapa bulan lalu. Namun, kendala utama di lapangan adalah aliran air yang membawa material berat.
“Sebanyak apapun kanal dan sudetan sungai, tetap tidak akan bisa menampung jika air membawa material lumpur, sampah, hingga potongan kayu. Inilah mengapa kesadaran menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke aliran sungai menjadi sangat penting agar upaya mitigasi kami di hilir tidak sia-sia,” jelas pria yang akrab disapa Cak Nur itu.
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, dari total 209 kejadian itu terdiri dari 127 bencana tanah longsor, 46 kejadian cuaca ekstrem, 25 banjir, 10 kebakaran gedung dan bangunan dan satu kebakaran hutan dan lahan.
“Bencana alam mendominasi dengan 199 kejadian. Sedangkan kejadian bencana non alam 10 kejadian,” kata Plt Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko kepada Suryamalang.com, Minggu (11/1/2026).
Jumlah Bencana Meningkat
Dari 209 bencana yang terjadi di Kota Batu ada ratusan orang yang terdampak. Total ada sebanyak 281 orang terdampak dan 26 orang mengungsi.
“Rumah rusak ada sebanyak 19 rumah keadaan rusak berat, 16 rusak sedang, 24 rusak ringan dan 19 rumah terendam. Sementara juga ada seluas 1 hektar sawah dan 0,175 hektar milik masyarakat yang terdampak bencana,” jelasnya.
BPBP Kota Batu membenarkan adanya kejadian bencana itu menyebabkan dampak korban, kerusakan maupun kerugian pada sektor rumah, sosial ekonomi, pelayanan dasar serta prasarana dan sarana vital.
Sementara untuk lokasi bencana di Kota Batu, paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Bumiaji dengan jumlah sebanyak 99 bencana, disusul Kecataman Batu 78 kejadian dan Kecamatan Junrejo sebanyak 32 bencana.
