Dari Penari Jaranan Jadi Perajin Barongan, Pria di Blitar Raup Omzet Rp20 Juta per Bulan

www.PetaniNusantara.com.ǁJawaTimur,6 Januari 2026-Kegemarannya dengan seni jaranan mengantarkan Bayu Setyawan (35) menjadi perajin barongan.

Bapak dua anak ini sudah lebih 10 tahun menekuni bisnis kerajinan alat pementasan kesenian jaranan barongan.

Bayu sedang menyelesaikan kerajinan barongan di halaman samping rumahnya di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Selasa (6/1/2026).

Tangan Bayu terlihat luwes menatah potongan kayu membentuk barongan. Selesai ditatah, potongan kayu yang sudah terbentuk barongan dihaluskan menggunakan kertas amplas.

“Setelah dihaluskan, baru dilakukan pengecatan dan finishing,” kata Bayu, sambil menunjukkan kerajinan barongan miliknya.

Di halaman samping rumah yang juga menjadi tempat work shop itu terlihat tumpukan barongan setengah jadi. Sebagian barongan sudah melalui proses pengecatan.

Bayu mulai menekuni usaha kerajinan barongan sejak 2015. Sejak kecil, Bayu memang suka dengan kesenian jaranan.

Awalnya, Bayu hanya ikut menjadi penari di pementasan kesenian jaranan.

“Awalnya, saya hanya ikut pementasan kesenian jaranan. Lalu, saya tertarik belajar membuat kerajinan barongan,” ujarnya.

Akhirnya, Bayu belajar membuat kerajinan barongan kepada seseorang di wilayah Yogyakarta. Ia belajar membuat kerajinan barongan di Yogyakarta hampir lima tahun.

Di Yogyakarta, Bayu tidak hanya belajar membuat kerajinan barongan, tapi juga belajar kesenian wayang sekaligus cara membuat wayang.

“Setelah ngawulo dengan seniman di Yogyakarta, saya pulang ke Blitar menekuni kerajinan barongan,” katanya.

Usaha kerajinan barongan milik Bayu tidak langsung besar seperti sekarang. Di awal produksi, ia hanya melayani pesanan saja.

Ia belum berani menyetok kerajinan barongan dalam jumlah banyak di rumah. “Dulu, saya hanya melayani pesanan saja,” ujarnya.

Sekarang, Bayu tidak hanya melayani pesanan saja. Ia juga menyetok produksi barongan yang dijual di tempat wisata.

Jenis produksi barongan milik Bayu juga bervariasi mulai barongan devil, barongan rampak, dan barongan kucingan yang menjadi ciri khas Blitar. Tak hanya itu, Bayu juga memproduksi ganongan dan topeng.

Bayu memproduksi barongan untuk pementasan dan untuk mainan. Harga barongan untuk mainan mulai Rp 25.000 sampai Rp 1 juta per biji.

Sedang barongan untuk pementasan dibanderol dengan harga Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta per biji.

Dalam seminggu, Bayu bisa memproduksi minimal 50 biji barongan. Omzet yang didapat Bayu dari usaha kerajinan barongan rata-rata Rp 20 juta per bulan.

“Untuk pemasaran, saya ada sales yang mengambil barang untuk dijual ke tempat-tempat wisata. Selain itu, saya juga ada pemasaran lewat medsos,” katanya.

Sekarang, Bayu mempunyai tiga pekerja untuk memproduksi barongan. Dua pekerja bertugas mencari kayu bahan barongan, sedang satu pekerja membantu produksi.

Untuk finishing kerajinan barongan tetap dipegang sendiri oleh Bayu.

Menurut Bayu, pembuatan satu barongan untuk pementasan paling cepat membutuhkan waktu satu minggu sampai 10 hari.

Sedang proses pembuatan barongan mainan lebih cepat. Sehari, ia bisa membuat lima sampai 10 baroangan mainan.

“Kalau bahan pembuatan barongan, saya menggunakan kayu waru. Saya memilih kayu waru karena bahannya mudah didapat,” ujarnya.

Bayu mengatakan, usaha kerajinan barongan cenderung stabil. Tapi, perajin harus tetap terus update dengan jenis barongan yang sedang diminati pasar.

“Saya juga terus update jenis barongan yang sedang ramai di masyarakat. Misalkan, sekarang ramai lagi barongan rampak, saya juga produksi lagi,” katanya.